
Ayah Bunda, pada Rabu, 30 September 2026, POSA (Persatuan Orang Tua Siswa Al-Amanah, komite orang tua murid SD Islam Al-Amanah) menyelenggarakan kajian parenting di Masjid Al-Amanah bersama Ustadz Handy Bonny. Temanya “Merawat Amanah, Menuai Jannah”: bagaimana orang tua merawat amanah yang Allah titipkan, supaya rumah menjadi jalan menuju surga.
Kajian berlangsung sekitar dua jam dan ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat. Ringkasan ini kami susun untuk Ayah Bunda yang hadir maupun yang berhalangan, supaya pesan-pesannya bisa dibaca ulang dan dibicarakan kembali di rumah.
Tiga Amanah yang Dipegang Setiap Orang Tua
Seluruh kajian berangkat dari satu kerangka: setiap muslim memegang tiga amanah.
- Amanah hidup, dijalani sebagai ibadah.
- Amanah ilmu, dijemput, dipelajari, lalu diamalkan.
- Amanah Islam, dijalankan dan diperjuangkan, dimulai dari keluarga.

Pijakannya firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Kalau tujuan hidup adalah ibadah, maka semua peran yang kita jalani, sebagai suami, istri, dan orang tua, adalah bagian dari ibadah itu. Ustadz Handy juga mengutip QS Al-Baqarah ayat 207 tentang orang yang rela mengorbankan dirinya demi mencari rida Allah.
Keluarga adalah Ladang Ibadah, Bukan Sumber Masalah
Pesan pertama yang ditekankan penceramah: pasangan dan anak adalah potensi ibadah, bukan beban. Ketika anak rewel atau pasangan belum sejalan, justru di situlah ladang pahala orang tua terbuka.
- Perbaiki diri lebih dulu. Jangan sibuk menuntut ibadah orang lain sementara ibadah sendiri belum beres.
- Waspadai “berpindah dosa”: meninggalkan dosa besar, tetapi jatuh ke gibah, menghakimi, dan merendahkan orang lain.
- Kurangi membanding-bandingkan hidup. Keranjang belanja daring dan unggahan media sosial orang lain sering membuat kita lupa bersyukur.
- Hargai siapa pun yang sedang berbicara. Tidak sibuk dengan ponsel, dan tidak menilai orang dari status atau jabatannya.
“Tugas kita mencintai. Dicintai itu bonus.”
Ustadz Handy Bonny, tentang pasangan dan anak
Gawai dan Anak: Peringatan dari Mimbar
Bagian yang paling banyak mengundang tawa sekaligus angguk kepala adalah soal gawai. Menurut Ustadz Handy, ada tiga kebiasaan yang merusak otak: bermedia sosial tanpa batas waktu, melakukannya sambil berbaring, dan sambil makan.
Pada anak, gawai yang berlebihan ia kaitkan dengan anak yang terlambat bicara, mudah tantrum, dan berbicara kasar karena menirukan tontonan. Resepnya sederhana: ajak anak bermain fisik, termasuk permainan tradisional, dan batasi gawai, untuk anak dan untuk diri kita sendiri. Anak lebih percaya pada apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar.
Baca juga: Rahasia Gadget Bikin Remaja Rajin Bangun Subuh, cara SMP Al-Amanah mengarahkan gawai untuk pembiasaan hafalan.
Mendidik Anak: Teladan Lebih Kuat daripada Nasihat
Ustadz Handy mengingatkan tiga amal yang paling dicintai Allah: salat tepat waktu, berbakti kepada orang tua, dan bersungguh-sungguh di jalan Allah. Tiga hal itu pula yang perlu tumbuh pada anak-anak kita.
- Didik anak agar kelak siap berkeluarga, bukan hanya siap bekerja.
- Pilih sekolah yang agamanya baik. Ia merujuk UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3: tujuan pendidikan nasional adalah peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, baru kemudian cerdas dan kreatif.
- Jangan bangga dengan prestasi akademik anak bila salatnya ditinggalkan.
- Pegang tiga hal dalam menjalani hidup: berprinsip tauhid, menjalankan nilai Islam dari Al-Qur’an dan hadis, serta mencontoh Rasulullah ﷺ.
Nilai yang sama, TAAT, KUAT, MANFAAT, menjadi pegangan di SD Islam Al-Amanah: pembiasaan salat dan adab berjalan beriringan dengan pelajaran di kelas.
Amanah Ilmu: Dicari, lalu Diamalkan
Menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan, dan ilmu yang sudah didapat wajib diamalkan. Ustadz Handy mengkritik umat yang kaya teori tetapi miskin praktik: paham agama, tetapi tidak mengamalkannya.
Ia juga menyinggung kebiasaan kita yang rela membeli tiket hiburan, tetapi enggan hadir di kajian yang gratis. Kehadiran Ayah Bunda di majelis seperti ini adalah bagian dari merawat amanah ilmu.
Satu cara mendidik yang ia angkat dari Rasulullah ﷺ: bertanya untuk menggali pemahaman, seperti dalam kisah Malaikat Jibril yang datang bertanya kepada Nabi. Pola yang sama bisa dipakai di rumah: bertanya lebih dulu, baru menasihati.
Rumah sebagai Madrasah Pertama
Amanah ketiga, amanah Islam, menurut Ustadz Handy dimulai dari keluarga. Pernikahan punya empat tujuan:
- Ibadah.
- Tarbiyah, pendidikan sepanjang usia bagi suami, istri, dan anak.
- Dakwah lewat keturunan; ia mengutip Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tentang generasi muslim di Eropa.
- Falah, kemenangan dunia dan akhirat.
Penutupnya dua ayat: QS Ar-Rum ayat 21 tentang pasangan sebagai sumber ketenteraman, kasih, dan sayang, serta QS At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Tanya Jawab: Mengajak Pasangan Beribadah Bersama
Seorang ibu bertanya: bagaimana menasihati pasangan supaya bisa beribadah bersama, agar bersama pula di dunia dan di akhirat? Jawaban Ustadz Handy bertahap:
- Nasihati lewat sikap dan teladan, bukan banyak bicara.
- Mulai dari hal kecil: bangun lebih pagi, menyiapkan minum, menyambut pasangan saat pulang, dan tidak memaksa.
- Jaga nada bicara, termasuk dalam pesan singkat. Beda nada, beda makna.
- Merendah lebih dulu. Minta maaf, perhatikan responsnya, dan jangan membalas reaksi yang keras.
- Iringi dengan doa, seperti doa Asiyah, istri Fir’aun, dalam QS At-Tahrim ayat 11: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga.”
Lima Pesan untuk Dibawa Pulang

- Keluarga adalah ladang ibadah. Suami, istri, dan anak adalah potensi ibadah, bukan sumber masalah.
- Tugas kita mencintai; dicintai itu bonus. Berlaku untuk pasangan dan untuk anak.
- Batasi gawai, untuk anak dan untuk diri sendiri. Ajak anak bermain fisik.
- Nasihat paling kuat adalah teladan, bukan banyak bicara.
- Ilmu wajib dicari, lalu wajib diamalkan.
Ayat dan Rujukan yang Disebut
- QS Adz-Dzariyat: 56, manusia diciptakan untuk beribadah.
- QS Al-Baqarah: 207, orang yang mengorbankan dirinya demi mencari rida Allah.
- QS Ar-Rum: 21, pasangan sebagai sumber ketenteraman, kasih, dan sayang.
- QS At-Tahrim: 6, menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
- QS At-Tahrim: 11, doa Asiyah memohon rumah di surga.
- UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, tujuan pendidikan nasional: beriman, bertakwa, berakhlak mulia.
Terima kasih kepada pengurus dan panitia POSA yang menyiapkan kajian ini dengan sukarela. Satu pesan penceramah yang patut dibawa ke kajian berikutnya: kajian parenting sebaiknya dihadiri ayah dan ibu bersama-sama, supaya pemahaman di rumah berjalan sejalan.
Kajian untuk orang tua murid adalah bagian dari pendampingan keluarga di Sekolah Al-Amanah. Kenali lembaga kami lebih dekat di halaman Tentang Kami, atau ikuti kabar kegiatan lainnya di Blog.
Ringkasan ini disusun dari rekaman kajian. Penomoran ayat mengikuti bacaan yang dimaksud penceramah.
