Workshop ‘Guru Menulis ‘ Bersama Yudhistira ANM Massardi

Sharing is caring!

Menulis dan membaca adalah satu kesatuan. Modal dasar yang harus dimiliki oleh guru. Untuk menambah bekal dalam penulisan bagi para guru, Sekolah Al-Amanah Tangerang mengadakan workshop menulis pada hari Sabtu (16/4) bertempat di SDIP Al-Amanah Cikupa Tangerang.
Sekira 30 orang guru di yayasan Al Amanah yang tersebar dari Unit TK hingga SMP mengikuti kegiatan yang menghadirkan Pak Yudhistira ANM Massardi dan Pak Yanto dari Sekolah Gratis untuk Dhuafa, Batutis Al-Ilmi Pekayon Bekasi.
Berfoto Bersama Pak Yanto dan Pak YUdhis
Siapa yang tak mengenal Pak Yudhistira. Kembaran Noorca M Massardi yang eksis sebagai host acara Cinema-Cinema di era 90-an ini telah dikenal sebagai sastrawan dan penulis puluhan buku baik fiksi dan non fiksi. Bahkan Pak Yudhis juga menulis berbagai skenario film dan sinetron.
Pak Yudhis membuka kegiatan workshop dengan quote ‘Menulis itu tidak sulit, namun juga tidak selalu menjadi mudah’. Menulis menurut Pak Yudhis hanya dimulai dengan satu huruf. Ya hanya satu huruf yang kemudian dirangkai menjadi satu kata, satu kalimat, dan akhirnya menjadi satu alinea atau paragraf.
Pak Yanto memberikan semangat kepenulisan
Huruf ‘S’ yang dipilih oleh Pak Said,  salah seorang guru SMP Al-Amanah sebagai huruf awal yang dilanjutkan dengan huruf K sehingga menjadi sebuah kata ‘Skill’. Selanjutnya pak Yudhis menunjuk satu-satu peserta agar menyebutkan kata yang dapat dirangkai dengan kata ‘Skill’ menjadi sebuah kalimat. Satu kalimat yang dibuat pun dilanjutkan dengan kalimat lain. Namun sayang kalimat yang terbentuk menjadi tidak logis. Pak Yudhis mengatakan bahwa ketika kita sadar bahwa kalimat yang dibentuk tidak logis, ini sudah menjadi modal dalam menulis.
Percobaan kedua dimulai dengan huruf ‘B’ sehingga akhirnya membentuk sebuah paragraf yang bercerita tentang Bolu. Dan ternyata semudah itulah menulis. Pak Yudhis pun menantang para guru untuk membuat sebuah tulisan tentang ibu. “Semua pasti punya ibu kan?” Tegas Pak Yudhis. “Teman-teman bisa tuliskan kenangan bersama Ibu. Tak perlu pusingkan tata bahasa. Bebaskan diri…” tambah Pak Yudhis memberi motivasi.
upload_-1
Setelah tulisan jadi dan dibacakan oleh beberapa orang, pak Yudhis dan Pak Yanto tampak terharu. Di akhir sesi pertama ini Pak Yanto yang juga seorang editor ini memberikan penguatan tentang hambatan dan tantangan bagi penulis pemula seperti takut salah, atau terburu-buru ingin mengakhiri tulisannya.
Sesi kedua setelah makan siang, Pak Yudhis memberikan materi tentang macam-macam ‘Lead’ atau pembuka dalam tulisan. Pak Yudhis juga menunjukkan berbagai contoh Lead yang membuat penasaran pembacanya sehingga tergerak untuk terus membaca. Salah satunya adalah Lead dari novel pertama beliau ‘Arjuna Mencari Cinta’.
Sebagai tugas di sesi kedua, Pak Yudhis menantang para guru untuk menulis kembali. Namun kali ini dengan tema dan jenis tulisan yang bebas. Ada yang menulis cerita dan ada pula yang menulis pengalaman hidup dalam bentuk cerita. Seperti Ibu Rita yang berhasil mendeskripsikan kelamnya tahun 1984 yang dialami beliau bersama sahabatnya Dani.
upload_-1
Menurut Pak Yudhis dan Pak Yanto, sudah ada perkembangan dibandingkan tulisan-tulisan guru di sesi pertama. Mereka berdua berhasil memaksa guru menulis hingga menghasilkan dua tulisan hanya dalam waktu beberapa jam. Dan ternyata, menulis itu tidak sulit. Namun juga tidak selalu menjadi mudah. Menulis lah sekarang juga. (red/said)

Sharing is caring!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *